rozikin blog

Berbagi Pengalaman Online

Wednesday, October 10, 2012

Pecundang Vs Pemenang

Begini ceritanya seorang anak yang sering dianggap pecundang oleh lingkungan di sekitarnya,
pemenang vs pecundang

Sejak kecil, ia sudah sakit-sakitan. Bahkan ketika SD, pernah 1 bulan ia tidak masuk sekolah karena sakit. Dapat dikatakan, di antara teman-teman dan saudara-saudaranya, dialah anak yang paling sering sakit!

Sampai SMA, kondisi fisiknya masih sangat lemah. Hampir setiap bulan, ia selalu tidak masuk sekolah selama beberapa hari, karena alasan sakit. Bayangkan, saking lemahnya, sewaktu olahraga dan upacara saja sering kali ia pingsan. Padahal dia laki-laki dan sudah SMA!

Bukan cuma gampang sakit. Ketika kelas 3 SMP, ia adalah anak paling bodoh untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Ketika kelas 1 SMA, ia adala satu-satunya anak yang tidak berani tampl di depan kelas. Selain mider, ia juga kuper. Teramat sangat kupernya.

Tidak cukup sampai disitu. Keluarganya yang serba pas-pasan itu tinggal di rumah kontrakan di Dumai, sebuah kota kecil di Riau. Selama 10 tahun ibunya bekerja dan setiap hari pulang pergi menumpangi becak. Kemudian keluarganya pindah ke kota lain di kepulauan Riau dan tinggal di rumah tipe 21. Yah, terhitung rumah yang sangat kecil untuk sebuah keluarga yang terdiri dari 6 orang.

Ketika ia merantau kuliah, ayahnya meninggal. Agar bisa bertahan hidup dan kuliah, ia berjualan makanan setiap harinya, dari pukul 6 sore sampai pukul 12 malam.

Begitu beranjak remaja dan dewasa, barulah ia menyadari kelemahan-kelemahan dirinya. Ia pun berniat, berhasrat, dan bertekad untuk berubah, dari pecundang menjadi pemenang. Dan berkat pertolongan Yang Maha Kuasa melalui Sepasang Bidadari, ia berhasil mengubah nasibnya, Betul-betul berubah!

Bagaimana kesehatannya? Dibanding teman-teman dan saudara-saudaranya, dialah orang yang paling jarang sakit. Andai sakit sekalipun, hampir selalu ia sembuh tanpa harus berobat atau ke dokter sama sekali.

Bagaimana Bahasa Inggrisnya? Siapa sangka ia sempat jadi penerjemah untuk proyek PBB, dosen untuk kelas internasional, dan pengarang lagu dengan lirik Bahasa Inggris.

Bagaimana penampilannya di depan umum? Sulit dibayangkan, selain jadi dosen, ia juga pembicara nasional. Pernah pada suatu waktu, ia menjadi satu-satunya pembicara nasional yang berdomisili di daerah dan masih berusia 20-an. Yah, kelemahannya telah berubah menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.

Bagaimana pergaulannya? Rupa-rupannya, ratusan ribu teman-temannya tersebar diseluruh Indonesia, bahkan di sejumlah negara. Bukan cuma itu. Pengaruhnya pun meningkat berkali-kali lipat melalui seminar-seminar, buku-buku, dan bisnis-bisnisnya.

Bagaimana keuangannya? Ia pun memiliki beberapa bisnis.

Sebagian mungkin bisa menebak. Yah, dia adalah Ippho Santosa penulis buku 7 keajaiban rezeki. Hendaknya rangkaian kisah di atas menyadarkan kita semua bahwa menjadi pemenang itu adalah hak siapa saja. Tidak jadi soal apakah dulunya kita lemah, bodoh, minder, kuper, berasal dari keluarga miskin, berasal dari daerah, atau apapun. Karena bagi Yang Maha Kuasa, tidak ada mustahil. Apalagi kalo sepasang bidadari sudah turut menyertai, Jadi siapakah sepasang Bidadari itu? Bersabarlah, tidak lama lagi Anda akan mengetahuinya.

Sumber : 7 keajaiban reseki, karya Ippho Santosa.
Sumber gambar : http://juniorrising.wordpress.com
Back To Top